2018/04/18

Teman Dekat (Katanya?)

Setelah tiga tahun menjalani kehidupan perkuliahan ini, semakin lama semakin merasa kalau selama tiga tahun ini aku belum punya 'teman dekat'. Definisi teman dekat bagi masing-masing orang pasti berbeda makna, tapi buatku arti teman dekat di sini adalah teman yang enak diajak ngobrol hal-hal rahasia semacam masalah pribadi, masalah gebetan, dan masalah doi. Sejujurnya aku orang yang gampang banget buat cerita tentang doi ke orang-orang, tapi untuk masalah pribadi seperti kepenatan kuliah maupun hal-hal lain agak sulit untuk diceritakan ke sembarangan orang.

Kata orang-orang, semakin gede kita (gede ya bukan dewasa), lingkar pertemanan kita semakin kecil. Hanya orang-orang tertentu yang bisa bertahan di sekitar kita. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahami kita apa adanya tanpa perlu embel-embel males dengerin ceritanya, males jalan bareng, dan males-males lainnya. Kalo kata Ken, orang-orang seperti itu biasanya satu frekuensi hati dengan kita, makanya kita bisa terus get along dengan mereka 1x24 jam sekalipun.

Tapi masalah yang muncul di sini adalah, aku belum menemukan orang yang satu frekuensi hati denganku. Contohnya aja, aku punya teman buat belajar bareng, punya teman buat makan siang bareng, atau punya teman buat jalan-jalan bareng tapi dari semua kegiatan itu yang aku lakukan sama mereka rasanya hanya 'sekedar'. Ya sekedar aja berteman buat belajar, berteman buat makan, atau berteman buat main... tapi nggak sampai di hati rasa bertemannya. Balik lagi ke atas, mungkin karena aku dan mereka enggak satu frekuensi hati. Ketika aku menaruh hati ku untuk fokus di suatu pekerjaan, mereka memilih untuk fokus di hal lain. Ya mungkin seperti itu jika digambarkan.

Jadi, karena ketidaksatufrekuensian ini, akhirnya kadang aku memutuskan untuk menyendiri ketika mereka sedang tidak satu frekuensi dan mencari orang yang satu frekuensi. Karena ketika aku memutuskan untuk tetap bersama, yang terjadi hanya memperburuk frekuensi hatiku. Mereka bisa mengungkapkan keinginan hati mereka agar aku punya frekuensi hati yang sama, tapi yang terjadi denganku frekuensi hatiku malah berantakan dan merusak mood untuk tetap baik-baik saja.

Jadi, mungkin karena itu orang gede punya teman dekat hanya sedikit. Karena ketika kita bertambah tua, urusan masing-masing kita semakin bermacam-macam sehingga frekuensi hati yang muncul semakin bermacam-macam pula. Hanya orang-orang tertentu dengan frekuensi hati yang sama, yang tetap bisa melihat kita secara normal dan apa adanya. Salah satu contohnya adalah partner hidup kita atau memang sahabat yang sudah tau jelek buruknya kita, sehingga bisa melihat kita apa adanya.

2018/03/06

Perihal Hati

Untuk Kamu,

Aku punya hati. Sama halnya dengan kamu. Sama halnya dengan orang lain. Sama halnya dengan orang yang kamu sukai. Aku tahu yang kamu pilih bukan aku. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk kembali menyadarkan kita, sudah. Dan kamu memilih dia. Kenapa butuh waktu lama? Karena itu pertama kalinya aku patah hati sebesar-besarnya.

Di waktu yang lama itu, usahaku sudah cukup banyak dengan selalu menghindarimu, bertemu orang lain, atau menyukai orang lain. Dari semua hal itu, tidak ada yang bagus hasilnya. Hanya saja, perasaanku terhadapmu menjadi berkurang.

Nyatanya setelah sekian lama aku menghindar, kita pun bertemu lagi, sebagai teman. Teman diajak ke sini, teman di ajak ke sana, atau teman main kalau nggak ada orang lain yang bisa diajak main. Pada saat itu, untuk pertama kalinya rasa suka itu hilang. Akan tetapi perasaan itu tidak bertahan lama ketika kamu kembali memperlakukanku sama seperti dulu.

Setiap waktu, setiap saat aku selalu menyangkal perasaan itu. Kadang berhasil, kadang gagal. Sama seperti kali ini. Hanya aku yang bodoh selalu berpikir kita bisa kembali. Nyatanya tidak. Kamu tetap memunggungiku dan selalu melihat ke arahnya, ketika bersama teman-teman lain. Mungkin aku hanya seperti bayangan kecil yang dengan mudah kamu sembunyikan dibalik punggungmu, ketika bersama teman-teman lain. Simpanan?

Kembali lagi, nyatanya aku punya hati, sama seperti orang lain. Untuk kamu yang memperlakukanku sedemikian rupa, tolong berhenti, karena aku masih punya hati. Mari kita berteman biasa, jika memang ingin berteman. Aku sudah menjauhkan segala bentuk perasaan, tinggal perlakuanmu terhadapku yang menentukan.

Salam hangat,
Aku

2018/01/24

Perspektif

Aku penasaran sesungguhnya apa sebutan untuk seseorang yang di sisi lain bisa memotivasi kita tapi secara tidak sadar omongannya melukai hati kita? Aku bingung kenapa dua sifat yang sangat bertolak belakang itu terdapat dalam satu orang yang sama? Itu yang membuat kita menyukainya dan kadang membencinya. Agar adil atau apa? Atau seimbang?

Tapi nyatanya sikap orang tua kita pun bisa kita padang menjadi dua hal yang bertolak belakang. Menyenangkan dan menyebalkan. Kalau kita lihat mungkin tidak ada orang yang memang benar-benar 100% melihat orang lain benar-benar suka dan tidak ada flawlessnya atau kebalikannya. Benci pun setengah mati kan bukan benci sempurna mati? Ahahahaha.

Tapi pertanyaan itu memang belum terjawab sih. "Kenapa kita bisa melihat seseorang bisa memotivasi kita dan suatu waktu bisa membuat mood kita rusak". Mungkin. Mungkin jawabannya sesuai judul sih. Semua tergantung sudut pandang kita melihat suatu hal. Karena manusia di bumi sekarang sudah mencapai 8 milyar (iya gitu?), berarti ada 16 milyar sudut pandang mata. Belum lagi kalo orangnya suka pindah-pindah (?)

Entah benar atau tidak, bayangkan kalau kita melihat suatu hal dengan sudut pandang orang lain mungkin dunia nggak serame ini kali ya. Mungkin bakal banyak orang yang bisa lebih dulu memahami kondisi orang baru bisa menjudge orang tersebut. Sekarang lagi viral banget gitu komentar-komentar orang di line, kalau dulu tweetwar ahahaha. Sama ngepost meme banyak banget setiap komenan. Ada juga yang nanggepin. Tapi ya gitu. Mulutnya lebih gede daripada telinganya. Padahal telinga aja menang dua lebih banyak daripada mulut.

Ya intinya gitu sih. Perspektif. Sudut pandang. Orang mau foto yang bagus aja butuh angel yang pas kok hehe.
Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.