2018/05/31

Berbohong

Setiap orang pasti pernah berbohong setidaknya satu kali seumur hidupnya. Entah sebagai anak kecil yang menyembunyikan fakta bahwa dia minum di siang hari ketika puasa atau minta uang jajan tambahan karena buku tulisny sudah habis. Terlebih lagi berbohong dapat dikategorikan menjadi dua jenis, berbohong untuk menutupi kesalahannya atau malah berbohong untuk kebaikkan. Di mana ada yang bilang bahwa berbohong untuk kebaikan itu diperbolehkan.

Karena aku juga orang, tentu aku pernah berbohong. Tapi sepertinya tidak sepandai orang-orang di sekitar. Ketika aku berbohong mungkin gestur tubuhku mungkin akan terlihat aneh, terlebih lagi raut muka. Wajahku mungkin akan terlihat panik tapi mencoba tenang atau tanganku yang malah kaku padahal harusnya tidak. Bagaimana aku bisa tahu? Ya mungkin. Aku hanya bisa merasakannya. Dan untuk orang yang menyadarinya, hanya akan mengiyakan ucapan bohongku ala kadarnya; seperti ibu.

Aku tidak pandai berbohong dengan orang lain, begitu juga berbohong pada diriku sendiri. Sudah berapa kali aku berkata, "Tidak peduli" yang nyatanya mengembalikanku pada realita aku tetap peduli. Sudah berapa kali aku berkata, "Aku tidak suka" yang tetap saja membuat diriku panik dan perut mulas ketika mengetahui kenyataan. Aku tidak pandai berbohong, pada diriku sendiri. Tubuhku yang menunjukkan itu semua.
 
Lantas. Bagaimana. Aku. Menghadapimu.

2018/05/22

Meninggalkan Bandung; Semester 6

Akhirnya kembali lagi ke satu hari di penghujung semester, atau lebih tepatnya tingkat 3; tahun ketiga. Kalau bisa flashback satu tahun kemarin, H-1 meninggalkan Bandung aku juga bikin postingan tentang berakhirnya semester 4 (baca di sini). Mungkin kali ini aku juga mau bikin tentang berakhirnya semester ini, atau lebih tepatnya tahun ketiga di ITB. Tahun ketiga, di mana kita sudah dianggap dewasa dan menjalani dua proyek beserta tetek bengeknya yang lain.

Ada apa di tahun ketiga ini? Setelah dua tahun berturut-turut di ITB aku masih terus main sama temen-temen SMA, akhirnya aku mulai lepas dari mereka. Yang aku ingat, awal masuk semester 5 aku masih main sama mereka. Kita masih sempet main arung jeram di Situ Cisanti gitu ya? Pas banget waktu itu tanggal merah hari kemerdekaan. Kita malah main arung jeram bukannya upacara. 


Setelah waktu itu, kayaknya aku udah mulai jarang main sama Astondung; sebutan buat Astonic yang di Bandung. Proeko dan probis sangat menyita waktu dan pikiran ternyata. Tapi proeko memang proyek yang paling berkesan sih. Walaupun kita tiap minggu terus-terusan pergi ke lapangan, tapi nyatanya seru juga. Nggak bikin bosen cuma di kelas aja. Dan yang paling bikin makin berkesan adalah kuliah lapangannya, ke Taman Nasional Bali Barat. Buat cerita lengkapnya bisa lihat di sini

Waktu lagi ambil data di Bali Barat
Waktu sehabis presentasi penelitian kecil
Apalagi ya yang paling berkesan di semester 5? Oh iya karena disibukkan dengan kehidupan akademik yang tiada berakhir, akhirnya aku mulai berteman akrab dengan anak-anak biologi. Jadi jaman-jaman tingkat 1 dan tingkat 2 aku kalo mau main selalu mainnya sama temen-temen SMA. Tapi akhirnya sekarang kalo main sama temen-temen biologi. Apalagi semester 6 ini yang gabut tapi ga gabut. Nontonnya sama mereka mulu sih. Belajar bareng, main bareng, nonton bareng, nyari promoan bareng wkwk.

Dan sebenernya yang paling menarik dari semester 6 ini adalah 'lingkaran setan'-nya yang berasa nggak selesai-selesai (walaupun akhirnya selesai juga sih). Lingkaran setan ini menjadi sebutan untuk logbook mikro hari rabu, laporan biper jumat, dan laporan mikro hari rabu minggu depannya beserta logbook mikro yang sudah harus dibikin lagi. Terbaik sih emang, tapi survive juga ternyata. Tapi sayangnya kulap biper sekarang kebanting banget sama kulap proeko kemarin. Cuma satu hari di Garut dan nggak nginep. Ya walaupun makanannya enak-enak sih.

Main ke Tangkuban Parahu sama Audie, Prani, dan Ninis
Isen ke Museum Geologi sama Nadhilah
Tapi sejujurnya dengan berakhirnya semester 6, aku juga sedih. Tinggal tersisa satu tahun lagi. Itupun udah di jalannya masing-masing. Pastinya udah di lab-nya masing-masing ngerjain tugas akhir. Sedih aja, baru bisa deket sama mereka akhir-akhir ini. Terima kasih kalian sudah membuat diriku survive di tahun ketiga ini. Meskipun banyak rintangan menghadang, tapi menyenangkan bisa ngejalananin bareng kalian-kalian.

Makan di Asep Stroberi yang lumayan banget lah makanannya

2018/05/21

Hujan

Sore hari dengan latar belakang hujan rintik di Bandung. Seharusnya suasana itu yang cocok melatarbelakangi suasana hati ini, tapi sayangnya tidak. Sore ini hujan memang, akan tetapi hujan badai. Tanpa payung ataupun jas hujan, aku terjebak di pelataran suatu toko yang tertutup di pinggiran jalan. Sendirian dengan kondisi ponsel baterai lemah. Aku harus menghemat baterai agar aku bisa pulang dengan menelpon ojek online pikirku, dengan itu ponsel aku matikan dan berakhir dengan menikmati aroma jalanan basah dan kendaraan lalu lalang.

Campuran aroma antara jalanan basah dan asap kendaraan mengingatkanku kepada kejadian lima tahun silam. Saat itu aku sedang berada di depan kampus, terjebak air hujan yang menggenang di mana-mana. Bukan payung yang aku butuhkan saat itu, hanya sebuah sendal swallow agar sepatu putihku bisa selamat. Aku merutuki diriku sendiri yang selalu lupa untuk membawa sendal cadangan ketika musim hujan tiba. Satu-dua orang lewat, tapi tidak ada yang aku kenal. Kelas akan mulai lima menit lagi. Apakah ini waktunya aku bolos kelas? Tak beberapa lama kemudian, hujan yang semula rintik kembali deras. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan menghela napas, mungkin belum saatnya aku masuk ke kelas. Aku membuka tas dan mencoba meraih ponsel, ah iya benar kenapa nggak nanya ke grup aja ya. Belum ponsel menyala sepenuhnya, tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku.

"Nggak kelas?" tanyanya.
"Ih pas banget, kamu ada sendal nggak? Ini mau ke kelas tapi becek semua dan aku pake sepatu putih."
"Nggak punya. Yaudah sih jalan aja, sepatu doang aja nanti bisa dicuci."
"Nggak mau."
"Daripada hari ini ada kuis dadakan. Siapa tau."
"EH! Hari ini ada kuis?!"
"Ya siapa tahu. Yuk kelas!"
"Tapi aku nggak ada payung."
"Nih pakai payungku. Aku pakai jaket."

Dia memberikan payungnya kepadaku. "Nggak apa-apa? Atau barengan aja pake payungnya!" "Udah entar kelamaan." Akhirnya dia bersiap dan memakai jaketnya untuk menutupi kepala dan seluruh badannya. "Yuk!" Dia berjalan di depan dan aku mengekor di belakang. Kalau bukan karena kuis, aku mungkin memilih untuk tetap diam di tempat itu, seharian sekalipun, sampai hujan berhenti. Aku terfokus dengan jalan, takut-takut ada bagian yang becek dan memperparah kotornya sepatu. Tapi karena itu pula beberapa kali payung yang sedang kupegang tidak sengaja menabrak kepalanya. "Hati-hati, Dil." ucapnya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa kikuk akibat kesalahan yang kuperbuat.

Setelah mencapai jalur teduh yang paling dekat dengan kelas, aku memutuskan untuk menutup payung. Pada saat itu pula aku menyadari, dia memiliki punggung yang cukup lebar. Sejak kapan dia memiliki punggung selebar itu dan memiliki badan setinggi setinggi itu? Sepanjang perjalanan aku terpaku pada punggung serta rambutnya yang basah akibat hujan. Sampai suatu ketika dia menoleh ke arahku. "Payungnya taruh aja di luar." "Eh, oke." "Gimana sepatunya?" tanyanya sambil tertawa. Pertanyaannya membuatku tersenyum masam mengingat sepatuku yang sudah sangat basah, "Basah banget ini, kotor juga." Dia tertawa renyah, "Tau nggak, Dil? Sebenernya aku bawa sendal di tas." Dia pun tertawa dan aku hanya bisa menatapnya tajam berharap payung ini bisa terlempar ke mukanya. "Jahat kamu." Tapi berkat saat itu, aku tidak pernah peduli dengan hujan dan sepatu. Setiap kali hujan, yang terbayang adalah wajahnya. Aku hanya peduli dengan hujan dan dia. Karena berkat hujan, aku dekat dengan dia.

Semenjak saat itu, hujan bukan perkara baju dan sepatu basah, dingin, dan jas hujan. Menurutku, hujan jauh lebih indah dari itu. Mulai dari aroma air yang bercampur dengan tanah, genangan air yang menyisakan nada, dan yang pasti dia. Hujan selalu mengingatkan pertemuanku dengannya.

"Heh, ngapain senyum-senyum sendiri?" ucap seseorang membangunkanku dari cerita lama itu. Ternayata dia yang datang.
"Lah bukannya kamu masih di Jakarta?"
"Kan aku udah bilang, aku balik ke sini hari Rabu. Nggak jadi hari Kamis."
"Ini hari apa sih...?"

Dia melepaskan jaketnya dan menaruhnya di kepalaku. "Kelamaan libur ya, jadi lupa hari. Ngapain di sini sendirian?" "Habis dateng ke workshop terus lupa bawa payung. Kamu sendiri juga ngapain di sini?" "Lagi laper aja, terus jalan-jalan liat orang bengong terus senyum-senyum gitu sendirian, yaudah samperin aja. Hehe. Ponsel kamu juga dihubungi nggak aktif terus." "Ohiya aku matiin soalnya lowbatt. Terus kalo udah di samperin mau ngapain?" "Ya, ditemenin aja. Hari ini aku... ." Obrolan kami berlanjut hingga lampu-lampu jalanan mulai menyala satu persatu. Hujan mulai reda dan dia mulai membuka payung. Sore itu, aku tidak jadi memesan ojek online untuk pulang. Diiringi rintik hujan, kami berdua berjalan pulang ke rumah menggunakan payung oranye favorit kami, dengan tangan saling bertautan. 

Kalau hari itu tidak hujan, apakah sekarang aku masih tetap menggenggam tangan yang sama?
Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.