2017/11/19

Lelah


Entah lihat perjuangannya bikin beban lebih keangkat, sedikit. Jahat nggak sih :(

Iya aku tau, semester lima adalah semester yang cukup melelahkan. Semua orang juga merasakannya. Bayak tugas besar, praktikum laboratorium juga mulai, dan aku ada dua proyek yang diakhiri dua penelitian kecil. Biasanya sih kalo udah mulai pencil biasanya lebih gabut soalnya praktikumnya udah nggak jalan. Tapi buat ngurus dua pencil semacam di semester lima ini, istilahnya nggak ada habisnya. “Habis proeko, terbitlah probismol” atau kalo nggak “Habis probismol, terbitlah proeko”. Ya intinya gitu aja tiap hari sampe pertengahan desember. Ya, semester lima memang melelahkan. Karena itu, aku butuh “rumah”.

Setelah pergi merantau kurang lebih hampir enam tahun, banyak “rumah” baru yang terbentuk setiap kali aku mulai nyaman dengen keberadaan orang lain disekitarku. Ada dua rumah yang selalu menjadi tempatku pulang. Keluargaku di rumah dan Astonic. Setiap kali aku kembali mereka, selalu ada energi positif (secara lebaynya) yang membuat aku lebih bisa memandang positif segala hal yang ada. Tapi entah kenapa, sekarang kedua rumah itu sulit dijangkau.

Keluargaku, aku, ayah, ibu, dan kakak. Ayah ibu tinggal di Malang sedangkan kakak tinggal di Yogyakarta sama keluarga kecilnya di daerah Krapyak. Kakakku ini sudah lulu jadi sarjana kedokteran sekitar kurang lebih empat tahunan yang lalu dan pernah bekerja di Pati di salah satu rumah sakit daerah yang cukup baru. Semacam dosen sekarang harus minimal S3, kakakku pun juga begitu. Untuk lebih kredibel dalam pekerjaannya, dia akhirnya memutuskan untuk mendaftar kerja di Pati dengan harapan ada sekolah gratis S2 dari sana. Tapi setelah bertahun-tahun kerja, tidak ada tanda dari sana kalau ada program seperti itu. Daripada kelamaan, akhirnya ibu menyuruh kakak buat mengambil S2 secara mandiri di UGM. Singkat cerita dia keterima di ilmu spesialis bedah di UGM. Ya biayanya nggak cukup murah.

Ibu sama ayah, nggak jauh beda dengan kakak. Karena selama ini ibu sama ayah dosen di Malang, tapi masih pendidikan masih S2 akhirnya beliau-beliau mengambil pendidikan juga S3 di Malang. Ya istilahnya sekeluarga lagi bareng-bareng kuliah sekarang (semoga wisudanya nggak barengan).

Masalah dalam batin pun mulai muncul. Semester lima memang melelahkan. Lelah badan, lelah pikiran. Dan jarang telfon orang tua. Itu yang paling parah. Kadang ingin cerita ke orang tua tentang capek ini, capek itu, tapi seketika denger suara ayah atau ibu yang lebih capek jadi enggan cerita. Setiap kali telpon ibu sama ayah, pesan terakhirnya selalu bilang “jangan boros”. Ibu sama ayah mau kuliah, kakak juga mau kuliah. Aku lagi kuliah. Jauh di bandung sendiri. Kadang iri sama kakak yang kadang masih bisa pulang atau kalo nggak ditengokin ayah sama ibu di Yogya. Kadang iri, sama kakak yang selalu ngasih kabar ke ibu atau ibu selalu ngehubungin kakak buat tau kondisi cucunya. Kadang iri sama temen yang bisa tiap hari nelpon atau ditelpon orang tuanya buat ditanyain kabarnya gimana atau hari ini sudah makan apa aja. Kadang iri, iya iri, cuma bisa iri.

Akhirnya segala kepenatan atau apapun itu aku alihkan dengan main sama rumahku yang lain, Astonic Bandung. Teman-teman SMA yang dulunya selalu ada, tapi sekarang semuanya makin sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu juga, aku. Semester lima ini, terakhir aku kumpul sama mereka mungkin sehari atau beberapa hari sebelum masuk kuliah. Saat main arung jeram di Situ Cileunca (kalo nggak salah). Iya aku akui semua orang sangat sibuk. Begitu juga aku. Tapi ada kalanya, aku ingin rehat dari kesibukan ini dan main lagi sama mereka. Atau setidaknya berkumpul antara kita karena kita rindu masing-masing bukan karena ada tamu yang datang dan kita menemani main.

Suatu ketika saat pulang dari kulap besar, rasanya semua badan capek dan banyak deadline tugas minggu depan. Entahlah, waktu itu aku cuma ingin berkumpul dengan kalian dan akhirnya aku beli sedikit oleh-oleh agar bisa menjadi alasan kita kumpul. Tapi entah kenapa rasanya berbeda waktu itu. Iya semua orang sibuk. Atau bukan sibuk. Tapi mungkin terlalu menyepelekan arti sebuah kumpul. Mungkin hanya aku orang saat itu yang terlalu lelah dan butuh rumah untuk pulang. Tapi ternyata rumah itu sudah berubah. Terlalu angkuh, terlalu drama. Aku cuma ingin pulang. Bukan berdebat. Sudah terlalu lelah. Cuma ingin bersandar.

Semenjak hari itu aku kehilangan rumah. Entah karena sudah berganti atau sudah hilang. Asal kalian tahu, banyak hal yang aku sesali karena terlalu banyak membawa oleh-oleh. Mending gausah beli lah. Mending aku bawa ke sekre himpunan lah. Mending aku kasihin ke shaffa aja lah. Apaya, ngelihat jamur-jamur di roti dan masih kebayang rasa enek roti yang udah ditaruh seminggu di lemari es bikin kesel. Ditambah lagi, pas ada tamu dateng aja semuanya rame. Pas aku pingin ngumpul. Diem semua dan malah ada drama. Entahlah lelah. Capek.

Untungnya di tengah kelelahan ini masih ada yang bilang, “Tenang, Dil. Kan masih ada kita-kita.” Walaupun yang bilang ini, sama-sama capeknya. Dua proyek, dua pencil.

2017/11/13

Canva




Pertama kalinya bikin poster. Pakai canva. Baru tahu ada web semacam ini.

2017/09/25

Pecha Kucha

Pecha Kucha merupakan bentuk presentasi 20x20 dimana  terdapat 20 slide yang tiap slidenya selama 20 detik. Sehingga totalnya adalah 6 menit 40 detik. Berikut contohnya.

Bagaimana membuat jurnal yang menarik?

Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.