2018/01/24

Perspektif

Aku penasaran sesungguhnya apa sebutan untuk seseorang yang di sisi lain bisa memotivasi kita tapi secara tidak sadar omongannya melukai hati kita? Aku bingung kenapa dua sifat yang sangat bertolak belakang itu terdapat dalam satu orang yang sama? Itu yang membuat kita menyukainya dan kadang membencinya. Agar adil atau apa? Atau seimbang?

Tapi nyatanya sikap orang tua kita pun bisa kita padang menjadi dua hal yang bertolak belakang. Menyenangkan dan menyebalkan. Kalau kita lihat mungkin tidak ada orang yang memang benar-benar 100% melihat orang lain benar-benar suka dan tidak ada flawlessnya atau kebalikannya. Benci pun setengah mati kan bukan benci sempurna mati? Ahahahaha.

Tapi pertanyaan itu memang belum terjawab sih. "Kenapa kita bisa melihat seseorang bisa memotivasi kita dan suatu waktu bisa membuat mood kita rusak". Mungkin. Mungkin jawabannya sesuai judul sih. Semua tergantung sudut pandang kita melihat suatu hal. Karena manusia di bumi sekarang sudah mencapai 8 milyar (iya gitu?), berarti ada 16 milyar sudut pandang mata. Belum lagi kalo orangnya suka pindah-pindah (?)

Entah benar atau tidak, bayangkan kalau kita melihat suatu hal dengan sudut pandang orang lain mungkin dunia nggak serame ini kali ya. Mungkin bakal banyak orang yang bisa lebih dulu memahami kondisi orang baru bisa menjudge orang tersebut. Sekarang lagi viral banget gitu komentar-komentar orang di line, kalau dulu tweetwar ahahaha. Sama ngepost meme banyak banget setiap komenan. Ada juga yang nanggepin. Tapi ya gitu. Mulutnya lebih gede daripada telinganya. Padahal telinga aja menang dua lebih banyak daripada mulut.

Ya intinya gitu sih. Perspektif. Sudut pandang. Orang mau foto yang bagus aja butuh angel yang pas kok hehe.

2018/01/21

Sereal Pagi Hari

Semenjak liburan di rumah kemarin, kebiasaan makan sereal pagi-pagi masih kebawa sampai sekarang. Alasannya klasik sih. Soalnya makan sereal pakai susu. Nggak ada orang yang nggak tau (kecuali yang emang nggak tau hehe) kalo aku suka banget sama susu. Ya walaupun kalo minumnya pagi-pagi banget jadi gampang banget pupnya. Jadinya, sereal waktu di rumah kemarin jadi asupan tambahan atau snack sewaktu ibu sama ayah ke kampus. Sambil nonton drama makan sereal jam 10 atau 11-an. Di perut enak, nggak bikin laper lagi sampe sore, di mana ayah sama ibu pulang dan biasanya bawa makanan haha.

Jadi sepanjang liburan kemarin kerjaannya setelah ibu sama ayah berangkat ke kampus adalah nyambungin laptop ke TV terus nyalain drama kalo nggak film. Begitu terus sampe jam tiga sore waktunya mandi dan beres-beres lagi rumah. Kalo bosen kayak gitu, bagian nonton filmnya diganti sama baca buku. Buku yang kemarin selesai kebaca waktu liburan adalah Rentang Kisahnya Gita Savitri. Bukunya tipis dan enak dibaca. Isinya tentang bagaimana proses 'hijrah' seorang Gita Savitri menjadi seorang influencer dan youtuber seperti sekarang. Banyak kisah yang bagus menurut aku dan ngebikin kita mikir lebih. Kemudian ada salah satu bab di mana salah satu bagiannya cerita tentang Al-Quran.

Intinya di sana dia cerita kalau Al-Quran itu bisa menjadi obat ketika hati sedang susah dan bingung apa yang salah, baca aja Al-Quran. Membaca bagian itu aku mengiyakan pernyataannya, tapi lagi-lagi aku cuma mengiyakan nggak melakoninya. Sampai di suatu waktu, aku teringat bagaimana 'sepinya' semester limaku kemarin. Kalo diistilahkan sih bisa dibilang, "Hidup tapi nggak hidup". Kamu ada, tapi nggak berasa ngelakuin. Jadi rasanya hidup cuma sekedarnya aja. Kosong rasanya. Sekedar panik. Sekedar ke kampus. Sekedar ujian. Iya, aku menaruh bagian duniawi di atas semuanya. Akhirnya setelah mengkoreksi 'hidup sekedarnya' di semester lima kemarin, aku mulai coba buat baca tiap hari satu lembar. Pagi hari sehabis solat Shubuh. Rasanya beda. Kamu lebih semangat buat ngejalanin hari itu dan menyelesaikan daily goals. Ya begitu. Rasanya mirip kayak sereal pagi hari. Dia ngasih tenaga buat ngejalanin aktivitas dari pagi.

No Longer Hiatus

Blog ini sebenarnya dibuat bulan Mei tahun lalu dengan tujuan menulis ide atau pikiran yang muncul pada saat itu. Tapi nyatanya setelah meninggalkan dunia baca novel dan berganti dengan dunia nonton drama korea, aku jadi kesulitan untuk nulis. Bukan kesulitan sih sebenernya, jadi mager aja buat nulis. Padahal dulu kalo diinget-inget tiap hari waktu jaman-jaman MTs tiap hari pasti nulis di blog. Entah cerita receh di kelas atau sekedar mereview hal-hal baru yang lagi jaman-jamannya waktu itu. Pokoknya jaman-jaman MTs itu jaman-jaman aku suka nulis banget. Entah itu nulis novel cheesy di laptop atau nulis diary di blog.

Kuantitas menulis di blog waktu itu berkurang juga gara-gara susah akses internet di asrama dan lebih memilih buat bikin jurnal tiap tahunnya di asrama. Soalnya kalo nggak ditulis langsung ceritanya bakal lupa wkwk. Jurnalnya pun jurnal yang isinya diary tentang love and hate cerita di asrama. Tapi akhirnya berasa blog juga soalnya semua orang jadi ikutan baca isi bukunya wkwk. Baru kemudian semenjak masuk kuliah jadi susah banget nulis. Blog lama diprivate karena ada seseorang annoying yang dengan gampangnya baca tulisan di blog kenceng-kenceng. Entah itu muji atau ngeledek. Akhirnya bikin blog baru yang baru keisi beberapa postingan pribadi dan sisanya tugas mata kuliah TKI yang baru diambil semester kemarin. Selain blog sebenarnya ada akun tulisan lagi yang lain: tumblr, twitter, dan Instagram second account. Tapi ketiga akun itu isinya curhatan semua sih. Nggak ada yang bener-bener serius. Ya blog yang ini juga terancam isinya gitu-gitu aja tapi yaudah, nggak masalah, Toh nggak ada yang tertarik baca juga, mungkin.

Di tengah dunia dewasa yang mulai datang dan orang-orang kepercayaan kita mulai sedikit, kenapa menulis tidak menjadi sebuah alternatif? Aku sebagai anak kosan yang tinggal sendirian sebagai anak S1 di lingkungan kosan, merasa nggak ada yang nyambung aja kalo mau cerita-cerita tentang ke-hectic-an kampus yang tingkatnya udah beda. Sebagai makhluk sosial, seenggaknya kita perlu mengutarakan pendapat atau pemikiran kita ke minimal satu orang lah. Kalo nggak ada, yaudah ditulis aja. Karena tulisan itu bersifat ada selamanya kecuali hilang atau dihapus, pasti suatu saat ada yang baca ketika masalah yang kita alami selesai. Kecuali kalo emang butuh masukan, harusnya cerita ke seseorang. Kalo ingin melegakan, kataku cukup diutarakan dulu kok nggak perlu timbal balik seseorang dulu. Intinya, selamat menulis!
Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.