2017/05/19

Day (minus) 1

Akhirnya semester 4 gue pun berakhir. Tapi nggak tau gimana hasil akhirnya nanti. Semoga memuaskan. Aamiin. Kata kating, semester genapnya anak biologi itu lebih selow. Tapi gue tidak merasakan keselowannya. Emang sih laprak nggak banyak, cuman beban pikirannya aja yang banyak. Kita harus belajar mati-matian lah istilahnya. Apalagi sama mata kuliah yang judulnya Perkembangan Hewan. Susahnya di mata kuliah ini, kita belum pernah dapet materi-materinya di SMA atau tingkat 1. Jadi ya gitu. Di tambah materinya cukup banyak, dimulai dari fertilisasi, cleavage, blastulasi, gastrulasi, neurulasi, organogenesis, dan post-embryonic development. Di mana kita nggak cuma belajar di tubuh manusia aja, tapi kita juga belajar di beberapa hewan yaitu bulu babi, bintang laut, katak, ayam, dan manusia. Ya bisa dibayangkan sebanyak apa materinya. Akhirnya, matkul ini pun ditutup dengan ujian perwan di hari yang sama dengan tes SBMPTN 2017 kemarin. Dan kita pun ikut-ikutan pake sistem LJK gitu. Anak-anak sih bilangnya "Ujian perwan rasa SBMPTN". Parahnya sih, kita harus ngisi semua soal yang kira-kira kalau ditotal ada 200an soal benar-salah. Kalo jawaban kita nanti tidak tepat bakal diminus. Masalahnya kita nggak ada pilihan ngosongin soal. Jadi, kalo udah nggak tau itu bener apa enggak ya bhay. Masalahnya gue kemarin banyak nggak taunya :(

Ada juga mata kuliah Biokimia. Di mana dosennya sih gokil parah. Ceritanya beliau emang udah ngambil studi di luar negeri gitu kan, jadi beliau menerapkan prinsip nggak boleh telat atau nilai akhir langsung E. Setuju-setuju aja sih sama peraturan bapak yang satu itu. Tapi ada hal lain yang bikin kita selalu deg-degan ketika masuk kelas si bapak. Intinya bapak akan mengadakan ujian sejumlah enam kali, tapi kita nggak bakal dikasih tau kapan hari itu ada ujian atau enggak. Jadi ya kerjaan kita sebelum masuk kelas, ngereview materi minggu kemarin. Terus kalo ternyata nggak ada ujian minggu itu, berarti sebelum masuk kelas minggu depan kita harus ngereview materi dua minggu yang lalu dan begitu seterusnya. Soal ujian bapak sebenernya nggak susah-susah amat, tapi kitanya yang walaupun udah belajar tetep aja nggak siap. Sebenernya si bapak sangat inspiratif sekali di kelas. Banyak mengaitkan masalah atau fakta-fakta di luar dengan matkul biokim. Jadinya, kita tetep enjoy sama bapak walaupun sistem kuliahnya gitu.

Kelas bapak yang so inspiring :3

Alhamdulillahnya, gue sudah melewati semuanya. Gue udah nganggur kurang lebih empat hari terhitung dari ujian terakhir perwan tanggal 16 Mei. Gue sebenernya udah disuruh-suruh pulang sama ibu buat bantuin ayah ngoreksi ujian, katanya. Tapi apa mau dikata hasrat diri ingin main ke Jogja dulu besok. Maaf ya Yah, Bu. Pas puasaan udah bakal di rumah kok.

Intinya, gue bentar lagi mau liburan hehe. Selamat ujian buat yang masih ujian, selamat ngurus KAT 2017 buat yang ngurus, selamat ngurus osjur juga (gue juga sih ngurus osjur, tapi masih entar), dan yang paling penting selamat liburan. Ohiya, selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan juga ya. Semoga kita bisa menjalani ibadah puasa tahun ini dengan sebaik mungkin. Aaamiin.

2017/05/14

Back to The Past

Ngeblog, postingan, blogwalking, followers, tukeran link, dsb. Kata-kata itu yang mungkin sering kita denger sebagai pengguna blog. Jadi di sini gue mau cerita. Gue termasuk orang-orang tahun 2009 yang mulai memanfaatkan blog sebagai media cerita atau sharing pengalaman. Di mana waktu itu gue masih sebagai anak kelas 6 SD. Postingan blog gue ya gitu-gitu aja. Cerita tentang kehidupan sehari-hari, kegemaran gue ngefotoin sekeliling rumah dan diedit-edit pakai filter sepia monokrom gitu, dan berbagai kealayan yang lain.

Dari kecil gue suka banget nulis. Waktu itu masih kelas 3 SD kalo nggak salah, gue sempet bikin cerita pendek di laptop ibu, yang ceritanya tentang pencurian resep rahasia gitu. Gue lupa detailnya kayak apa. Dari kecil, ibu sama ayah lebih mending beliin gue buku bacaan dibandingkan mainan-mainan mahal gitu. Gue inget banget buku pertama yang dikasih itu buku ensiklopedia tentang gajah. Bukunya tipis dan sehari langsung abis gue baca. Karena ayah sama ibu sibuk dan nggak sempet beliin atau ngajak beli buku, akhirnya gue suka main ke rumah tetangga, namanya Uma. Gue sering banget minjem buku-buku dia yang sebagian besar komik tentang ilmuwan atau penemu-penemu gitu. Selain itu waktu jaman-jaman waktu kosong antara habis UAS sama pembagian rapor, di sekolah gue ada yang namanya classmate. Di mana kita punya waktu kosong dan biasanya diisi sama lomba-lomba. Kalo nggak ada lomba, biasanya kita mainan atau bawa buku terus tukeran baca gitu di kelas. Serulah pokoknya. Jaman-jaman SMP, bacaan buku gue jadi makin-makin. Tiap hari gue bisa ngabisin satu novel dan setiap bulannya gue bisa beli buku 1-2 kali.

Beranjak dari kegemaran gue baca buku, gue jadi suka banget sama yang namanya nulis cerita. Akhirnya di dunia maya gue menemukan sebuah tempat di mana gue bisa nulis dan baca sekaligus, yaitu blog. Dengan blog yang ada gue bisa nulis pengalaman gue sekaligus baca postingan orang lain. Mulai dari sana, gue suka banget nulis dan selalu mencari-cari hal baru buat ditulis tiap hari terlepas dari status-status alay di facebook dan twitter.

Dari sana, gue suka banget "jalan-jalan" ke blog orang lain dan menemukan blog-blog yang isi dan desainnya gue suka semacam blognya Diana Rikasari, Ghea Safferina dan Sophia Mega. Dari blogwalking yang gue lakukan, akhirnya gue juga mulai kenalan sama orang-orang di mana kita punya kesukaan yang sama.

Ternyata seiring berjalannya waktu dan gue masuk asrama, waktu gue buat baca dan nulis menjadi sangat berkurang. Kalo nulis, jadinya gue nggak pernah nulis di blog lagi sih karena terbatasnya internet dan waktu penggunaan laptop. Gue jadi punya diary yang setiap bukunya bisa jadi mewakili satu tahun gue di sana. Setelah gue keluar dari asrama, ternyata blog sudah berkurang sekali peminatnya. Sekarang orang-orang jadi lebih suka ke Youtube di mana penampilannya berupa video. Hal yang ditampillkan sama, bisa jadi cerita sehari-hari tapi bukan dalam bentuk tulisan melainkan video. Semenjak keluar asrama pun, kemampuan membaca gue menjadi tidak setinggi dulu. Dulu gue bisa menghabiskan waktu semaleman buat baca novel dengan ketebalan 200 halaman. Tapi sekarang, gue butuh waktu seminggu buat menyelesaikan satu bab novel. Hai itu terjadi karena, selain waktu gue buat baca textbook kuliah, waktu luang yang ada gue pake buat nonton drama, film, dan youtube. Dua tahun gue keluar dari asrama gue membeli empat buku dan cuma satu buku yang selesai dibaca. Sedih sih menyadari realitanya.

Kenapa gue cemas dengan keadaan seperti ini? Karena setahu gue dengan membaca kita bisa lebih mengimajinasikan apa yang kita baca. Sistemnya nggak seperti video di mana kita "mengiyakan" apa yang kita tangkap. Dengan membaca kita memakai otak kita untuk berpikir dan membuat sebuah settingan baru di otak kita. Interpretasi kita dengan orang lain dari suatu buku yang kita baca sangat mungkin berbeda. Dan itulah menariknya. Jadi gue di sini mau bilang, yuk tingkatin lagi minat bacanya. 

Video ataupun film mungkin lebih menyamankan kita dalam menikmati sebuah cerita. Tapi cerita berupa novel dapat membuat kita pergi ke sebuah tempat di mana tidak ada orang lain yang dapat menjangkaunya.

2017/05/11

Badai Negeri

Gue cukup gerah dengan timeline di LINE akhir-akhir ini. Iya, gue dapet berita sekarang lewat LINE. Efek anak kos yang jarang baca koran dan nonton TV. Yang gue perhatiin adalah bermula dari pilkada Jakarta kemarin, ketika orang-orang mulai jelek-jelekin pihak-pihak tertentu. Di mana gue cukup risih dengan kalimat-kalimat "agama dijadiin alasan untuk memilih itu irrasional" dan "yang milih ahok berarti kafir".

Sebenernya gue termasuk orang yang nggak ngerti banget tentang politik. Gue cuma mau bilang apa yang mereka lakukan itu sangat bodoh. Pertama dari orang yang bilang kalo berpolitik dengan landasan agama itu nggak rasional. Intinya, ada orang yang mengatakan hal tersebut didukung dengan display data berupa grafik yang berisi alasan-alasan orang memilih paslon beserta jumlahnya. Dan di sana ditampilkan data dengan angka tertinggi adalah pemilih dengan alasan "Agamanya sama", kemudian orang ini berpendapat bahwa orang yang memilih karena agamanya sesuai dengan paslon yang dia pilih adalah tidak rasional. Dia bilang, seharusnya yang dilihat adalah kredibilitas dan kemampuan paslon tersebut dalam memimpin nantinya.

Sebenernya gue setuju dengan alasan dia tentang memilih paslon harus dilihat dari kredibilitas dan kemampuannya. Tapi ungkapan dia tentang "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", gue nggak setuju. Setahu gue, agama merupakan dasar kita berkehidupan di bumi. Mungkin kalo nggak ada agama, jalan hidup kita nggak ada yang bener. Ya jadi, politik berlandaskan agama itu tepat dan rasional.

Di sini berarti orang-orang yang memilih dengan alasan "agamanya sama", berarti mereka mengikuti perintah di agamanya. Sehingga orang ini yang berpendapat bahwa "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", nggak bisa berpendapat langsung seperti itu. Agama itu sudah menjadi privasi diri masing-masing. Mau ada orang bangun jam tiga tiap hari buat solat tahajud atau ada orang yang setiap minggu pergi ke gereja, kita sebagai orang luar nggak berhak untuk mengomentari. Sesama umat muslim pun, agama menjadi privasi sendiri-sendiri. Yang kita bisa lakukan adalah saling mengingatkan dan terus mengajak kepada kebaikan.

Hal ini juga berkaitan dengan orang-orang yang mengatakan sesama saudaranya "kafir". Setahu gue, ajaran agama islam tidak sekeras itu. Kalian nggak bisa ngejudge orang yang mendukung orang nonmuslim sebagai kafir. Cuma Allah yang menentukan orang tersebut kafir tidaknya. Jika kalian menyebut saudara kalian kafir dengan alasan agar membuat mereka takut, strategi itu belum tentu mempan. Karena beberapa orang malah akan memberontak ketika disalahkan. Setahu gue, agama islam itu mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama umat. Menurut gue, orang-orang seperti inilah yang bisa merusak wajah islam. Islam dipandang sebagai agama yang keras, menimbulkan kebencian, dsb. Jika ingin mengingatkan, bukannya lebih baik pelan-pelan sehingga membuka pemikiran mereka kepada titik yang ingin kita capai?

Intinya, menurut gue di kondisi negara yang heterogen seperti ini permasalahan agama itu tidak perlu dimunculkan keluar publik. Hanya perlu masing-masing diri kita yang tahu dan mengimaninya. Karena seberapa kali pun kita berpendapat tentang agama lain, kita nggak bisa ngejudge agama tersebut. Begitu pula seberapa kali pun kita menjelaskan tentang ajaran di agama kita, orang dengan agama lain pun belum tentu paham dan menerima. Kita mengimani hal yang berbeda. Karena itulah agama tidak perlu dimunculkan ke publik.

Gue merasa Indonesia saat ini dipenuhi dengan orang-orang yang pemikirannya dapat mudah disentil-marah karena suatu hal. Pemikiran-pemikirannya nggak sehat. Ditambah dengan media-media yang mengompori satu sama lain. Media-media yang tidak murni untuk menyampaikan informasi dan malah ditambahi embel-embel politik. Pancasila yang dulunya diperjuangkan sedemikian rupa agar tercipta Bhineka Tunggal Ika pun rusak. Bagaimana nasib Indonesia yang baru diperjuangkan merdeka, tapi perlahan hancur dari dalam?
Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.