2017/09/17

Cinta

Sebenernya apa sih itu cinta? Dia bukan benda, makanan, atau ilmu. Cinta adalah suatu hal abstrak yang membuat bahagia, sedih, bahkan terharu bagi orang yang merasakannya. Tergantung dari sudut mana cinta itu dirasakan. Tapi seenggaknya cinta menambah rasa nano-nano di kehidupan.

Itu menurutku hehe.

Bagi orang lain, cinta dapat diartikan bermacam-macam:
"Cinta merupakan perasaan spesial ketika kita mulai berpikir dan berkhayal tentang seseorang."
"Cinta adalah takdir, bukan sesuatu yang harus dipikirkan."
"Cinta itu percaya bahwa suatu saat akan terbalas."
"Cinta itu hanya memberi tak harap kembali."
"Cinta itu tidak terdefinisi."
... dsb.

Intinya, cinta adalah suatu hal abstrak yang dapat membawa berbagai makna. Cinta bisa membawa kebahagiaan atau malah kesedihan. Semua orang pasti pernah merasakan cinta. Entah itu cinta kepada orang tua, saudara, ataupun lawan jenis. Tapi bagaimana dengan jatuh cinta? Yang notabene selalu dikaitkan dengan sebuah perasaan yang melibatkan lawan jenis. Semua orang pasti pernah jatuh cinta. Entah itu dirasakan atau hanya menjadi perasaan yang terabai. Banyak orang yang dia merasakan jatuh cinta, tapi dia menolak untuk mengabaikannya. Entah karena ribet, terlalu complicated, atau belum saatnya.

Dengan adanya sebuah perasaan jatuh cinta, orang tersebut mempunyai dua pilihan. Menyatakannya atau tidak. Stereotip masyarakat menyatakan bahwa, laki-laki lah yang 'sebaiknya' menyatakan perasaannya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan, apakah laki-laki mudah menyatakan perasaannya? Dan kira-kira apa alasan laki-laki susah menyatakan perasaannya? Dari pertanyaan tersebut, kebanyakan perempuan menjawab bahwa laki-laki gengsi dalam menyatakan perasaannya. Sedangkan sebagian besar laki-laki menjawab karena takut ditolak atau takut si perempuan menjauh setelah itu. Namun, terlepas dari jawaban laki-laki-susah-menyatakan-perasaannya, banyak juga perempuan yang menjawab, perempuan jauh lebih susah menyatakan perasaannya. Mungkin hal ini dikarenakan adanya stereotip yang telah disebutkan, bahwa laki-laki lah yang seharusnya menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Sehingga kebanyakan perempuan merasa tidak punya 'kesempatan' untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu karena takut dianggap aneh, dll.

Inti dari semua ini adalah, cinta merupakan hal abstrak yang dirasakan oleh hampir semua orang. Dan rasanya pun tergantung dari orang itu bagaimana menyikapinya atau memandangnya. Mengendalikannya pun tergantung pun juga tergantung orang itu. Apakah butuh disampaikan atau tidak. Semua bergantung pada perspektif masing-masing, karena cinta adalah sesuatu yang abstrak dan sangat dinamis.

2017/09/10

Etika

Sebagai manusia terpelajar, alangkah baiknya kita bermoral dan beretika. Tapi, sebenernya apa sih bedanya dua kata itu. Kalo dulu kalian termasuk orang-orang yang sering baca buku bergambar di perpus SD atau kalo nggak mamah kalian suka beliin buku bergambar buat adik kalian yang masih kecil, biasanya di halaman terakhir buku bergambar itu ada tulisan "pesan moral". Sedangkan etika, biasanya muncul di kalimat-kalimat bioetik, kode etik kedokteran, dsb. 

mo.ral

  1. n (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila: -- mereka sudah bejat, mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan
  2. n kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan: tentara kita memiliki -- dan daya tempur yang tinggi
  3. n ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita

eti.ka /├Ętika/

  • n ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)

Jadi, jika disimpulkan moral adalah landasan baik buruk seseorang dalam melakukan perbuatan. Sedangkan etika adalah cara pengaplikasian dari moral yang telah ditanamkan, dapat berupa sesuatu yang baik ataupun yang buruk tergantung bagaimana kita memandang suatu nilai moral tertentu. Contoh kecilnya adalah, moral yang ditanamkan adalah mencuri itu suatu perbuatan yang jahat. Sedangkan etika yang ada adalah bagaimana jika pada suatu kondisi tertentu di mana jika kamu tidak mencuri maka kamu akan mati. Bagaimana pilihan yang harus diambil. Kurang lebih seperti itu.

Satu contoh lain adalah mencontek. Di mana, nilai moral yang kita tahu bahwa mencontek adalah perbuatan yang buruk. 3 dari 24 responden yang diambil secara acak yang memiliki rentang umur 18-21 tahun menjawab bahwa mencontek merupakan perbuatan yang tidak benar. Namun, dari 24 responden tersebut menjawab bahwa 6 orang yang tidak pernah mencontek. Kebanyakan dari mereka yang pernah mencontek, alasan kenapa mereka mencontek adalah kepepet, dekat deadline, dsb.

Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan, seseorang pada umumnya paham tentang baik dan buruknya moral. Namun, dalam pengaplikasiannya selalu terdapat faktor kondisi yang membuat sikap berbeda dengan moral yang telah diiyakan. 

2017/09/01

Kilometer Terakhir


"Melesat di jalan, kilometer terakheeerr"

Dari puluhan kata yang dinyanyikan cuma lima kata itu saja yang bisa aku tangkap di telinga. Tanpa lihat lirik pastinya. Sebagai orang dengan aliran musik pop, country, akustik, dsb., dari 365 hari dalam satu tahun mungkin cuma 2-3 kali aku bakal mau dengerin musik rock dengan keinginan aku sendiri. Sisanya? Terpaksa.

Entah kenapa kalau aku dengerin musik rock dengan volume yang cukup tinggi dan cukup lama, misalnya di konser, belum tiga menit langsung pusing dan minta buat keluar. Ya mungkin karena nada lagunya yang tinggi dan memekakkan telinga sih. Dan itu sama halnya terjadi kalau aku lagi dengerin dangdut atau dangdut koplo di mobilnya ayah.

Secara umum, menurutku musik dengan aliran rock selalu punya hawa tersendiri baik macam-macam nadanya atau makna dari liriknya. Dari nada-nadanya sendiri, musik rock selalu menggunakan nada dengan frekuensi tinggi dan selalu ada dentuman keras di setiap tabuhan drumnya. Mungkin bagi orang menyukainya, musik rock akan membawa semangat tersendiri dengan mendengarnya. Jika dilihat dari makna liriknya pun biasanya beraura bebas dan penuh tantangan. 

Coba kita ambil salah satu lagu dari band rock/metal Seringai yang berjudul Kilometer Terakhir. Lagunya bisa didengerin lewat video di atas dan buat yang nggak bisa menangkap kalimat-kalimatnya, ini liriknya.

"Melompat ke sadel, dan kuhantam sang selah.
Melawan arah, ku tantang maut, indah.
Terasa lepas. Melesat di jalan, kilometer terakhir.
Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir.

Kubakar bensin, mesin ini meradang.
Pacu motor, kutuju matahari. Tancap!
Melesat di jalan, ya, ku hampir tiba.
Angin menerpaku, serigala lepas.
Roda berputar, kilometer terakhir.
Hampir esok, seperti kemarin.
Kilometer terakhir."

Dari hasil membaca lirik sambil dengerin lagunya, menurutku lagu ini mengisahkan seseorang yang sedang berjuang sampai titik akhir penghabisan. Frasa kilometer terakhir mengibaratkan sebuah tujuan akhir. Seperti halnya ketika kita berkendara, kilometer terakhir merupakan ujung dari sebuah perjalanan dan merupakan titik untuk berhenti. Semangat yang terus menerus juga disiratkan dengan kata-kata melompat, menghantam, melawan arah, dsb. Ya intinya orang ini sedang berjuang dengan menggunakan segala cara yang ada hingga titik penghabisan.

Menurutku bagus maknanya, tapi kalau aku disuruh untuk mendengarkan langsung tanpa melihat lirik mungkin aku langsung berpikir "ini lagu apaan, nggak jelas". Setiap orang memang punya cara masing-masing buat menyampaikan apa yang dirasakan. Lewat lagu salah satunya. Namun, lagupun ternyata bermacam-macam alirannya. Ada yang dengan menggunakan aliran rock, ada juga yang pop. Semua bergantung masing-masing karena setiap orang punya selera yang berbeda.

2017/08/28

Caraku Berkomunikasi

Udah seminggu masuk kuliah dan akhirnya ngerasain jadi anak tingkat tiga. Kata kating sih tingkat tiga semester berat. Ada ekologi empat sks ditambah proyeknya tiga sks. Ditambah ekologi tergolong baru buat kita selama jadi mahasiswa biologi. Ya meskipun ada pengetahuan lingkungan semester tiga kemarin sih.

Selain ekologi, ada mata kuliah yang baru diambil. Yaitu TKI. Teknik Komunikasi Ilmiah. Di TKI ini, kita bakal belajar bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan baik dan benar. Salah satunya dengan tulisan. Ya semoga di mata kuliah ini, hobi menulisku ini bisa lebih bermanfaat buat kedepannya. Apalagi sebagai calon sarjana sains harus bisa menyampaikan hasil penelitian dengan baik.

Berhubungan dengan teknik komunikasi ilmiah, apasih sebenernya komunikasi itu? Buatku komunikasi adalah sarana penyampaian informasi dari sumber ke penerima. Komunikasi bisa dilakukan secara lisan maupun tulis. Bisa menggunakan media atau secara langsung. Komunikasi menurutku penting karena kalo nggak ada komunikasi di dunia ini, dunia akan terlalu sepi untuk dihuni dan tidak ada saling pengertian satu sama lain.

Beberapa orang ada yang lebih mudah untuk menyampaikan pendapatnya dengan sebuah tulisan. Ada juga yang lebih mudah menyampaikan secara verbal. Semua tergantung bagaimana kita mudah untuk berkomunikasi. Tapi, komunikasi juga harus dilatih. Baik secara verbal maupun tulisan. Agar informasi yang ingin kita sampaikan dapat mudah dimengerti dan tersampaikan dengan baik.

Sejauh ini mungkin aku termasuk orang tipe pertama. Di mana penyampaian informasi lebih mudah dengan penulisan. Tapi setelah menjalani perkuliahan selama dua tahun ini, komunikasi secara verbal juga jauh lebih penting. Karena tidak semua orang bisa dengan mudah membaca dan tidak semua orang mudah memahami bacaan.

Jadi, komunikasi dalam segala hal itu penting.

2017/08/05

Satu Bulan

"Karena setiap pulang ke rumah pada dasarnya kembali beristirahat dan mulai berkontemplasi diri mengenai segala macam bentuk kegiatan di luar rumah."

Sebulan sejujurnya belum terlalu cukup buatku menghilangkan home-sick berbulan-bulan. Tapi apa daya, sebagai anak rantau yang kalo udah di rumah malah kangen ngampus dan kalo ngampus kangen rumah. Karma. Aku memutuskan liburan kali ini emang memperbanyak waktu di rumah dan ketemu ayah sama ibu. Mengcancel keinginan KKN dan memilih buat jadi panitia osjur di kampus. "Berbakti sama orang tua dululah, sebelum besok-besok nggak bisa." pikirku. Tapi ternyata jadi panitia osjur juga menyita waktu di rumah sih. Seenggaknya bisa ramadhan penuh di rumah tanpa ada kegiatan bukber-bukber ke sana ke sini. Percaya nggak? Ini pertama kalinya puasa dengan satu kali bukber sama temen. Yang lain full bareng keluarga. Bahagia :')

Maaf oot ._.

Selama sebulan kemarin, banyak hal yang mulai aku pikirkan ulang tentang menjadi perempuan, menjadi anak, dan menjadi mahasiswa.

Menjadi perempuan yang seharusnya menjaga harga dirinya, menjadi sosok calon ibu, dan pengelola segala hal setiap bulan. Menjadi anak yang patuh kepada orang tua, mengerti keadaan orang tua, dan selalu membanggakan. Menjadi mahasiswa yang seimbang antara belajar dan organisasinya, nggak banyak main, dan nggak banyak menghabiskan uang.

Selain itu, menjadi dila yang tidak terfokus pada dirinya sendiri, memahami orang lain, selalu termotivasi, tidak mudah mengeluh, dan selalu tersenyum.

Manusia bukan malaikat, tapi alangkah baiknya jika kita terus berusaha menjadi seseorang yang lebih baik setiap tahun walau hanya 0,1% -- yaaa, bagusnya sih lebih dari 0,1% wkwk.

Ya intinya, ayah sama ibu selalu menginspirasi ketika aku di rumah. Banyak wejangan yang dikasih tentang apa arti sebuah kehidupan. Karena kehidupan itu pada akhirnya akan mati dan tinggalah bagaimana bekal kita buat ke kematian itu. "Jangan terfokus dalam segala hal yang berkaitan dengan dunia. Kalo bisa segala hal yang kamu lakukan harusnya bisa bermanfaat dan bisa bernilai ibadah. Tentunya juga dengan niat." Hal-hal sepele semacam itu kadang masih terlupa buatku. Apa arti hidup kalo aku ngelakuin segala hal di dunia ini sangat duniawi.

Aku berusaha mencoba, beberapa kali gagal tapi yang benar harus selalu dicoba kan?

2017/06/02

Refleksi Sikap

Sebagai manusia yang akan berumur 21 tahun, gue masih aja terlihat sebagai anak SMP atau SMA. Ukuran badan mendukung sih emang. Sering disapa sama ibu-ibu di kereta atau mbak-mbak mahasiswanya ibu, "Dik, kelas berapa?" Ya gue sih mewajarkan aja soalnya badan emang mungil-mungil gitu. Tapi entah kenapa sikap orang lain ke gue berasa seperti "ngemong" anak kecil.

Dimana salah sikap gue sebenernya sih?

Terlahir sebagai anak bungsu dan kakak udah nikah bikin gue makin-makin dimanjain sama ortu. Apa-apa dikasih walaupun enggak juga sebenernya. Gue dikasih uang yang harus diurus perbulannya. Punya target di kuliahan harus dapet IP bagus biar pulangnya nggak sia-sia. Gue sebocah apa sih? Gue harus kayak gimana biar nggak dikatain bocah? Kurang gue apa?

2017/05/19

Day (minus) 1

Akhirnya semester 4 gue pun berakhir. Tapi nggak tau gimana hasil akhirnya nanti. Semoga memuaskan. Aamiin. Kata kating, semester genapnya anak biologi itu lebih selow. Tapi gue tidak merasakan keselowannya. Emang sih laprak nggak banyak, cuman beban pikirannya aja yang banyak. Kita harus belajar mati-matian lah istilahnya. Apalagi sama mata kuliah yang judulnya Perkembangan Hewan. Susahnya di mata kuliah ini, kita belum pernah dapet materi-materinya di SMA atau tingkat 1. Jadi ya gitu. Di tambah materinya cukup banyak, dimulai dari fertilisasi, cleavage, blastulasi, gastrulasi, neurulasi, organogenesis, dan post-embryonic development. Di mana kita nggak cuma belajar di tubuh manusia aja, tapi kita juga belajar di beberapa hewan yaitu bulu babi, bintang laut, katak, ayam, dan manusia. Ya bisa dibayangkan sebanyak apa materinya. Akhirnya, matkul ini pun ditutup dengan ujian perwan di hari yang sama dengan tes SBMPTN 2017 kemarin. Dan kita pun ikut-ikutan pake sistem LJK gitu. Anak-anak sih bilangnya "Ujian perwan rasa SBMPTN". Parahnya sih, kita harus ngisi semua soal yang kira-kira kalau ditotal ada 200an soal benar-salah. Kalo jawaban kita nanti tidak tepat bakal diminus. Masalahnya kita nggak ada pilihan ngosongin soal. Jadi, kalo udah nggak tau itu bener apa enggak ya bhay. Masalahnya gue kemarin banyak nggak taunya :(

Ada juga mata kuliah Biokimia. Di mana dosennya sih gokil parah. Ceritanya beliau emang udah ngambil studi di luar negeri gitu kan, jadi beliau menerapkan prinsip nggak boleh telat atau nilai akhir langsung E. Setuju-setuju aja sih sama peraturan bapak yang satu itu. Tapi ada hal lain yang bikin kita selalu deg-degan ketika masuk kelas si bapak. Intinya bapak akan mengadakan ujian sejumlah enam kali, tapi kita nggak bakal dikasih tau kapan hari itu ada ujian atau enggak. Jadi ya kerjaan kita sebelum masuk kelas, ngereview materi minggu kemarin. Terus kalo ternyata nggak ada ujian minggu itu, berarti sebelum masuk kelas minggu depan kita harus ngereview materi dua minggu yang lalu dan begitu seterusnya. Soal ujian bapak sebenernya nggak susah-susah amat, tapi kitanya yang walaupun udah belajar tetep aja nggak siap. Sebenernya si bapak sangat inspiratif sekali di kelas. Banyak mengaitkan masalah atau fakta-fakta di luar dengan matkul biokim. Jadinya, kita tetep enjoy sama bapak walaupun sistem kuliahnya gitu.

Kelas bapak yang so inspiring :3

Alhamdulillahnya, gue sudah melewati semuanya. Gue udah nganggur kurang lebih empat hari terhitung dari ujian terakhir perwan tanggal 16 Mei. Gue sebenernya udah disuruh-suruh pulang sama ibu buat bantuin ayah ngoreksi ujian, katanya. Tapi apa mau dikata hasrat diri ingin main ke Jogja dulu besok. Maaf ya Yah, Bu. Pas puasaan udah bakal di rumah kok.

Intinya, gue bentar lagi mau liburan hehe. Selamat ujian buat yang masih ujian, selamat ngurus KAT 2017 buat yang ngurus, selamat ngurus osjur juga (gue juga sih ngurus osjur, tapi masih entar), dan yang paling penting selamat liburan. Ohiya, selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan juga ya. Semoga kita bisa menjalani ibadah puasa tahun ini dengan sebaik mungkin. Aaamiin.

2017/05/14

Back to The Past

Ngeblog, postingan, blogwalking, followers, tukeran link, dsb. Kata-kata itu yang mungkin sering kita denger sebagai pengguna blog. Jadi di sini gue mau cerita. Gue termasuk orang-orang tahun 2009 yang mulai memanfaatkan blog sebagai media cerita atau sharing pengalaman. Di mana waktu itu gue masih sebagai anak kelas 6 SD. Postingan blog gue ya gitu-gitu aja. Cerita tentang kehidupan sehari-hari, kegemaran gue ngefotoin sekeliling rumah dan diedit-edit pakai filter sepia monokrom gitu, dan berbagai kealayan yang lain.

Dari kecil gue suka banget nulis. Waktu itu masih kelas 3 SD kalo nggak salah, gue sempet bikin cerita pendek di laptop ibu, yang ceritanya tentang pencurian resep rahasia gitu. Gue lupa detailnya kayak apa. Dari kecil, ibu sama ayah lebih mending beliin gue buku bacaan dibandingkan mainan-mainan mahal gitu. Gue inget banget buku pertama yang dikasih itu buku ensiklopedia tentang gajah. Bukunya tipis dan sehari langsung abis gue baca. Karena ayah sama ibu sibuk dan nggak sempet beliin atau ngajak beli buku, akhirnya gue suka main ke rumah tetangga, namanya Uma. Gue sering banget minjem buku-buku dia yang sebagian besar komik tentang ilmuwan atau penemu-penemu gitu. Selain itu waktu jaman-jaman waktu kosong antara habis UAS sama pembagian rapor, di sekolah gue ada yang namanya classmate. Di mana kita punya waktu kosong dan biasanya diisi sama lomba-lomba. Kalo nggak ada lomba, biasanya kita mainan atau bawa buku terus tukeran baca gitu di kelas. Serulah pokoknya. Jaman-jaman SMP, bacaan buku gue jadi makin-makin. Tiap hari gue bisa ngabisin satu novel dan setiap bulannya gue bisa beli buku 1-2 kali.

Beranjak dari kegemaran gue baca buku, gue jadi suka banget sama yang namanya nulis cerita. Akhirnya di dunia maya gue menemukan sebuah tempat di mana gue bisa nulis dan baca sekaligus, yaitu blog. Dengan blog yang ada gue bisa nulis pengalaman gue sekaligus baca postingan orang lain. Mulai dari sana, gue suka banget nulis dan selalu mencari-cari hal baru buat ditulis tiap hari terlepas dari status-status alay di facebook dan twitter.

Dari sana, gue suka banget "jalan-jalan" ke blog orang lain dan menemukan blog-blog yang isi dan desainnya gue suka semacam blognya Diana Rikasari, Ghea Safferina dan Sophia Mega. Dari blogwalking yang gue lakukan, akhirnya gue juga mulai kenalan sama orang-orang di mana kita punya kesukaan yang sama.

Ternyata seiring berjalannya waktu dan gue masuk asrama, waktu gue buat baca dan nulis menjadi sangat berkurang. Kalo nulis, jadinya gue nggak pernah nulis di blog lagi sih karena terbatasnya internet dan waktu penggunaan laptop. Gue jadi punya diary yang setiap bukunya bisa jadi mewakili satu tahun gue di sana. Setelah gue keluar dari asrama, ternyata blog sudah berkurang sekali peminatnya. Sekarang orang-orang jadi lebih suka ke Youtube di mana penampilannya berupa video. Hal yang ditampillkan sama, bisa jadi cerita sehari-hari tapi bukan dalam bentuk tulisan melainkan video. Semenjak keluar asrama pun, kemampuan membaca gue menjadi tidak setinggi dulu. Dulu gue bisa menghabiskan waktu semaleman buat baca novel dengan ketebalan 200 halaman. Tapi sekarang, gue butuh waktu seminggu buat menyelesaikan satu bab novel. Hai itu terjadi karena, selain waktu gue buat baca textbook kuliah, waktu luang yang ada gue pake buat nonton drama, film, dan youtube. Dua tahun gue keluar dari asrama gue membeli empat buku dan cuma satu buku yang selesai dibaca. Sedih sih menyadari realitanya.

Kenapa gue cemas dengan keadaan seperti ini? Karena setahu gue dengan membaca kita bisa lebih mengimajinasikan apa yang kita baca. Sistemnya nggak seperti video di mana kita "mengiyakan" apa yang kita tangkap. Dengan membaca kita memakai otak kita untuk berpikir dan membuat sebuah settingan baru di otak kita. Interpretasi kita dengan orang lain dari suatu buku yang kita baca sangat mungkin berbeda. Dan itulah menariknya. Jadi gue di sini mau bilang, yuk tingkatin lagi minat bacanya. 

Video ataupun film mungkin lebih menyamankan kita dalam menikmati sebuah cerita. Tapi cerita berupa novel dapat membuat kita pergi ke sebuah tempat di mana tidak ada orang lain yang dapat menjangkaunya.

2017/05/11

Badai Negeri

Gue cukup gerah dengan timeline di LINE akhir-akhir ini. Iya, gue dapet berita sekarang lewat LINE. Efek anak kos yang jarang baca koran dan nonton TV. Yang gue perhatiin adalah bermula dari pilkada Jakarta kemarin, ketika orang-orang mulai jelek-jelekin pihak-pihak tertentu. Di mana gue cukup risih dengan kalimat-kalimat "agama dijadiin alasan untuk memilih itu irrasional" dan "yang milih ahok berarti kafir".

Sebenernya gue termasuk orang yang nggak ngerti banget tentang politik. Gue cuma mau bilang apa yang mereka lakukan itu sangat bodoh. Pertama dari orang yang bilang kalo berpolitik dengan landasan agama itu nggak rasional. Intinya, ada orang yang mengatakan hal tersebut didukung dengan display data berupa grafik yang berisi alasan-alasan orang memilih paslon beserta jumlahnya. Dan di sana ditampilkan data dengan angka tertinggi adalah pemilih dengan alasan "Agamanya sama", kemudian orang ini berpendapat bahwa orang yang memilih karena agamanya sesuai dengan paslon yang dia pilih adalah tidak rasional. Dia bilang, seharusnya yang dilihat adalah kredibilitas dan kemampuan paslon tersebut dalam memimpin nantinya.

Sebenernya gue setuju dengan alasan dia tentang memilih paslon harus dilihat dari kredibilitas dan kemampuannya. Tapi ungkapan dia tentang "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", gue nggak setuju. Setahu gue, agama merupakan dasar kita berkehidupan di bumi. Mungkin kalo nggak ada agama, jalan hidup kita nggak ada yang bener. Ya jadi, politik berlandaskan agama itu tepat dan rasional.

Di sini berarti orang-orang yang memilih dengan alasan "agamanya sama", berarti mereka mengikuti perintah di agamanya. Sehingga orang ini yang berpendapat bahwa "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", nggak bisa berpendapat langsung seperti itu. Agama itu sudah menjadi privasi diri masing-masing. Mau ada orang bangun jam tiga tiap hari buat solat tahajud atau ada orang yang setiap minggu pergi ke gereja, kita sebagai orang luar nggak berhak untuk mengomentari. Sesama umat muslim pun, agama menjadi privasi sendiri-sendiri. Yang kita bisa lakukan adalah saling mengingatkan dan terus mengajak kepada kebaikan.

Hal ini juga berkaitan dengan orang-orang yang mengatakan sesama saudaranya "kafir". Setahu gue, ajaran agama islam tidak sekeras itu. Kalian nggak bisa ngejudge orang yang mendukung orang nonmuslim sebagai kafir. Cuma Allah yang menentukan orang tersebut kafir tidaknya. Jika kalian menyebut saudara kalian kafir dengan alasan agar membuat mereka takut, strategi itu belum tentu mempan. Karena beberapa orang malah akan memberontak ketika disalahkan. Setahu gue, agama islam itu mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama umat. Menurut gue, orang-orang seperti inilah yang bisa merusak wajah islam. Islam dipandang sebagai agama yang keras, menimbulkan kebencian, dsb. Jika ingin mengingatkan, bukannya lebih baik pelan-pelan sehingga membuka pemikiran mereka kepada titik yang ingin kita capai?

Intinya, menurut gue di kondisi negara yang heterogen seperti ini permasalahan agama itu tidak perlu dimunculkan keluar publik. Hanya perlu masing-masing diri kita yang tahu dan mengimaninya. Karena seberapa kali pun kita berpendapat tentang agama lain, kita nggak bisa ngejudge agama tersebut. Begitu pula seberapa kali pun kita menjelaskan tentang ajaran di agama kita, orang dengan agama lain pun belum tentu paham dan menerima. Kita mengimani hal yang berbeda. Karena itulah agama tidak perlu dimunculkan ke publik.

Gue merasa Indonesia saat ini dipenuhi dengan orang-orang yang pemikirannya dapat mudah disentil-marah karena suatu hal. Pemikiran-pemikirannya nggak sehat. Ditambah dengan media-media yang mengompori satu sama lain. Media-media yang tidak murni untuk menyampaikan informasi dan malah ditambahi embel-embel politik. Pancasila yang dulunya diperjuangkan sedemikian rupa agar tercipta Bhineka Tunggal Ika pun rusak. Bagaimana nasib Indonesia yang baru diperjuangkan merdeka, tapi perlahan hancur dari dalam?

First Post!

"Kalo kalian punya unek-unek, sebaiknya sih diungkapin." Mungkin satu kalimat ini yang mendasari gue buat nulis lagi di blog. Sebuah platform di mana sejak tahun 2009 udah gue pake buat nulis. Berhubung satu dan lain hal, gue prefer buat bikin blog baru untuk menampung unek-unek yang selintas lewat.

Selain sebagai penyalur unek-unek, mungkin dengan gue nulis lagi di blog gue jadi bisa melatih susunan kalimat gue yang kata Ibu "unik". Jadi setiap gue ngechat Ibu lewat WhatsApp, Ibu sering banget ngeluh ke gue kalo susunan kata yang gue susun berantakan. Oleh karena itu, sebelum datang TA dan skripsinya mungkin gue harus mulai melatih menyampaikan pendapat lewat tulisan agar dimengerti orang lain.

Intinya postingan ini sebagai pembuka aja dan mau ngasih tau latar belakang gue untuk bikin blog ini. Selamat menikmati :)

Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.