2017/05/11

Badai Negeri

Gue cukup gerah dengan timeline di LINE akhir-akhir ini. Iya, gue dapet berita sekarang lewat LINE. Efek anak kos yang jarang baca koran dan nonton TV. Yang gue perhatiin adalah bermula dari pilkada Jakarta kemarin, ketika orang-orang mulai jelek-jelekin pihak-pihak tertentu. Di mana gue cukup risih dengan kalimat-kalimat "agama dijadiin alasan untuk memilih itu irrasional" dan "yang milih ahok berarti kafir".

Sebenernya gue termasuk orang yang nggak ngerti banget tentang politik. Gue cuma mau bilang apa yang mereka lakukan itu sangat bodoh. Pertama dari orang yang bilang kalo berpolitik dengan landasan agama itu nggak rasional. Intinya, ada orang yang mengatakan hal tersebut didukung dengan display data berupa grafik yang berisi alasan-alasan orang memilih paslon beserta jumlahnya. Dan di sana ditampilkan data dengan angka tertinggi adalah pemilih dengan alasan "Agamanya sama", kemudian orang ini berpendapat bahwa orang yang memilih karena agamanya sesuai dengan paslon yang dia pilih adalah tidak rasional. Dia bilang, seharusnya yang dilihat adalah kredibilitas dan kemampuan paslon tersebut dalam memimpin nantinya.

Sebenernya gue setuju dengan alasan dia tentang memilih paslon harus dilihat dari kredibilitas dan kemampuannya. Tapi ungkapan dia tentang "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", gue nggak setuju. Setahu gue, agama merupakan dasar kita berkehidupan di bumi. Mungkin kalo nggak ada agama, jalan hidup kita nggak ada yang bener. Ya jadi, politik berlandaskan agama itu tepat dan rasional.

Di sini berarti orang-orang yang memilih dengan alasan "agamanya sama", berarti mereka mengikuti perintah di agamanya. Sehingga orang ini yang berpendapat bahwa "politik berlandaskan agama itu nggak rasional", nggak bisa berpendapat langsung seperti itu. Agama itu sudah menjadi privasi diri masing-masing. Mau ada orang bangun jam tiga tiap hari buat solat tahajud atau ada orang yang setiap minggu pergi ke gereja, kita sebagai orang luar nggak berhak untuk mengomentari. Sesama umat muslim pun, agama menjadi privasi sendiri-sendiri. Yang kita bisa lakukan adalah saling mengingatkan dan terus mengajak kepada kebaikan.

Hal ini juga berkaitan dengan orang-orang yang mengatakan sesama saudaranya "kafir". Setahu gue, ajaran agama islam tidak sekeras itu. Kalian nggak bisa ngejudge orang yang mendukung orang nonmuslim sebagai kafir. Cuma Allah yang menentukan orang tersebut kafir tidaknya. Jika kalian menyebut saudara kalian kafir dengan alasan agar membuat mereka takut, strategi itu belum tentu mempan. Karena beberapa orang malah akan memberontak ketika disalahkan. Setahu gue, agama islam itu mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama umat. Menurut gue, orang-orang seperti inilah yang bisa merusak wajah islam. Islam dipandang sebagai agama yang keras, menimbulkan kebencian, dsb. Jika ingin mengingatkan, bukannya lebih baik pelan-pelan sehingga membuka pemikiran mereka kepada titik yang ingin kita capai?

Intinya, menurut gue di kondisi negara yang heterogen seperti ini permasalahan agama itu tidak perlu dimunculkan keluar publik. Hanya perlu masing-masing diri kita yang tahu dan mengimaninya. Karena seberapa kali pun kita berpendapat tentang agama lain, kita nggak bisa ngejudge agama tersebut. Begitu pula seberapa kali pun kita menjelaskan tentang ajaran di agama kita, orang dengan agama lain pun belum tentu paham dan menerima. Kita mengimani hal yang berbeda. Karena itulah agama tidak perlu dimunculkan ke publik.

Gue merasa Indonesia saat ini dipenuhi dengan orang-orang yang pemikirannya dapat mudah disentil-marah karena suatu hal. Pemikiran-pemikirannya nggak sehat. Ditambah dengan media-media yang mengompori satu sama lain. Media-media yang tidak murni untuk menyampaikan informasi dan malah ditambahi embel-embel politik. Pancasila yang dulunya diperjuangkan sedemikian rupa agar tercipta Bhineka Tunggal Ika pun rusak. Bagaimana nasib Indonesia yang baru diperjuangkan merdeka, tapi perlahan hancur dari dalam?

No comments:

Post a Comment

< > Home
Imaginary Cat © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.